Ribuan titik cahaya mulai menyinari sang bulan. Bulan tersenyum kepada matahari. Matahari membalas dengan cahaya yang lebih terang.
Setiap hari bulan bercerita tentang keadaan bumi. Begitu juga matahari. Setiap hari dia selalu bercerita tentang benda langit yang berada di sekitarnya. Mereka saling melengkapi satu sama lain.
Suatu hari tiba-tiba sinar matahari meredup. Bulan kebingungan dan cemas. Ia bertanya kepada matahari.
“Kalau sinarmu meredup, bagaimana nasibku? Aku tidak dapat menyinari bumi di malam hari”, kata Bulan sedih.
“Tenang bulan, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian dalam kegelapan. Aku berjanji akan terus menyinarimu jika malam tiba agar cahaya indahmu bisa sampai ke bumi. Jangan takut, kita akan terus bersama. Karena kita adalah pengantin semesta.”
Tampilkan postingan dengan label lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lomba. Tampilkan semua postingan
Belajar dari adik
"Kak, haus.", untuk ketiga kalinya aku mendengar itu.
"Sabar ya dik. Kita kan sedang berpuasa, jadi harus menahan haus."
Tapi sepertinya ia tidak mendengarku. Sepanjang perjalanan dia terus merengek minta dibelikan minuman. Sampai-sampai kami menjadi pusat perhatian di mal. Karena malu, akhirnya aku belikan sebotol minuman untuknya.
"Nih kakak belikan, jangan rewel lagi ya.", kataku kesal.
"Dari tadi dong kak, aku kan gak rewel.", katanya polos.
Tambah jengkel aku mendengarnya.
Setelah itu, kamipun segera pulang. Tiba-tiba adikku berjalan kearah lain.
"Dik, mau kemana?", tanyaku bingung.
Tapi dia terus saja berjalan. Dia menghampiri seorang anak kecil yang menangis di tangga.
"Kamu kenapa?", katanya bingung.
"Minumanku tumpah. Padahal itu untuk aku dan adikku berbuka puasa.", kata anak itu sedih.
"Nih, buat kamu.", dengan sedikit senyum adikku langsung menyodorkan minuman yang belum sempat ia minum.
Anak kecil itu menerimanya dengan senang dan mengucapkan terima kasih. Lalu adikku pergi dan berlari kearahku.
"Lho, kok kamu kasih ke dia minumannya? Tadi katanya haus?" kataku bingung.
"Gak apa-apa kak, kasihan anak itu. Kalo aku kan bisa minta lagi sama kakak. Hehe.", katanya polos.
Aku tak menyangka, ternyata dia sangat peduli terhadap orang lain. Satu pelajaran lagi untukku agar lebih peduli terhadap orang lain.
"Sabar ya dik. Kita kan sedang berpuasa, jadi harus menahan haus."
Tapi sepertinya ia tidak mendengarku. Sepanjang perjalanan dia terus merengek minta dibelikan minuman. Sampai-sampai kami menjadi pusat perhatian di mal. Karena malu, akhirnya aku belikan sebotol minuman untuknya.
"Nih kakak belikan, jangan rewel lagi ya.", kataku kesal.
"Dari tadi dong kak, aku kan gak rewel.", katanya polos.
Tambah jengkel aku mendengarnya.
Setelah itu, kamipun segera pulang. Tiba-tiba adikku berjalan kearah lain.
"Dik, mau kemana?", tanyaku bingung.
Tapi dia terus saja berjalan. Dia menghampiri seorang anak kecil yang menangis di tangga.
"Kamu kenapa?", katanya bingung.
"Minumanku tumpah. Padahal itu untuk aku dan adikku berbuka puasa.", kata anak itu sedih.
"Nih, buat kamu.", dengan sedikit senyum adikku langsung menyodorkan minuman yang belum sempat ia minum.
Anak kecil itu menerimanya dengan senang dan mengucapkan terima kasih. Lalu adikku pergi dan berlari kearahku.
"Lho, kok kamu kasih ke dia minumannya? Tadi katanya haus?" kataku bingung.
"Gak apa-apa kak, kasihan anak itu. Kalo aku kan bisa minta lagi sama kakak. Hehe.", katanya polos.
Aku tak menyangka, ternyata dia sangat peduli terhadap orang lain. Satu pelajaran lagi untukku agar lebih peduli terhadap orang lain.
